"Sayang makanannya aku taruh diatas meja yah." aku berdiri beberapa langkah tepat dibelakangnya.
Ia tak merespon ucapanku, ia terus saja mengetik. Seolah tak tahu keberadaanku.
dia hanya membisu. Malam itu, aku hanya bisa memandangnya sebatas punggungnya saja.
Jari jemajarinya begitu lincah menari diatas keyboard. Aku tak mau mengganggunya. Setelah menaruh nampan diatas meja, aku keluar dan meninggalkannya sendiri.
---
---
Keesokan harinya, seperti biasa aku mengantarkan sarapan untuknya. Kubuka pintu kamarnya. Sunyi.
Seolah tak ada kehidupan. Lampu kamarnya pun padam. Aku sedikit meraba tembok dibalik pintu untuk mencari saklar untuk menyalakan lampu.
Aku terperanjat. piring yang kubawa refleks terjatuh. Suaranya membelah kesunyian. Mataku belum bisa berkedip. Mendapati kekasihku sudah tak bernyawa, matanya melotot dan lidahnya sedikit menjulur. Jajaran aksara berhamburan keluar dari dalam komputer lipat dan melilit lehernya. Ia menulis kisah kematiannya sendiri.
***
Terinspirasi dari fiksimini: @artantozora JURU KETIK. Mati tercekik. Tulisannya sendiri.
Aku terperanjat. piring yang kubawa refleks terjatuh. Suaranya membelah kesunyian. Mataku belum bisa berkedip. Mendapati kekasihku sudah tak bernyawa, matanya melotot dan lidahnya sedikit menjulur. Jajaran aksara berhamburan keluar dari dalam komputer lipat dan melilit lehernya. Ia menulis kisah kematiannya sendiri.
***
Terinspirasi dari fiksimini: @artantozora JURU KETIK. Mati tercekik. Tulisannya sendiri.









- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact