Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
14/06/14 0 komentar

Kapas

Benda seputih dan selembut salju itu berhamburan ditampar angin. Melayang di udara, sejenak lupakan lara.


Dia terjatuh di tanah yang kotor, bercampur baur dengan najis. Aduh, apa sepedih ini rindu terkikis.


Dia mulai menangis, pohon randu meranggas. Menggugurkan kapas tanpa belas. ya, seperih inilah cinta tak berbalas.
10/12/13 0 komentar

Semesta, beritahu aku...

Semesta...
Beritahu aku bagaimana kabarnya?
Sore ini aku melihat bayangannya di langit senja.
Semburat jingga itu, memancarkan cahaya kesedihan.

Semesta...
Beritahu aku apa dia bahagia?
Demi angin yang setia membelai rerumputan.
Aku sungguh merindunya, rindu rentangan peluknya.

Semesta...
Beritahu aku apa saat ini dia juga memikirkanku?
Apa saat ini dia juga melihat senja yang sama?
Jawab. Jangan memaksaku bercengkrama dengan kesepian.



21/10/13 0 komentar

Sore itu ...

Sore itu ...
Aku ingin larut pada gemeriak air laut yang setia mencumbui bibir pantai.
Deburan ombak menjelma bunyi paling syahdu sepenangkapan indrawi.
Di kejauhan burung-burung nampak lelah mengepakan sayap.
Di pelataran dermaga seorang lelaki tua tercenung, berteman senyap.

Sore itu ...
Aku ingin tenggelam pada semburat warna jingga yang melukis angkasa.
Kala senja berkilau emas, menawarkan keindahan pada retina mata.
Ku harap sebait puisi mampu merajut asa.
Menghapus ingatan tentang dirimu yang jelita.

Sore itu ...
Aku ingin melayang bersama hembusan angin yang menyisir kulit.
Aku percaya kesejukannya mampu mengobati hati yang sakit.
Menurutmu apa yang lebih sia-sia dari menggarami air laut?
Benar, Aku yang terpaut, mencintaimu terlalu larut.


Kepulauan seribu, 12 Oktober 2013
01/10/13 2 komentar

Merelakan.



Urusan merelakan memang selalu pelik.
Seperti menarik keluar hati dari dalam bilik.
Lalu merajangnya menjadi bagian yang kecil dengan sebilah belati.
Rasanya seperti tak mau bernapas lagi.

Urusan merelakan memang selalu rumit.
Seperti benang yang kusut yang hendak ku jahit.
Lalu coba menguraikannya dengar sabar.
Hingga pikiran ini terkapar.

Urusan merelakan memang selalu sukar.
Seperti soal fisika yang mengakar.
Lalu dengan akal dan pikiran yang tersisa.
Berusaha menyelesaikannya dengan ribuan rumus yang ada.

Urusan merelakan memang selalu susah.
Yang ada dikepala hanyalah resah.
Yang ada dipikiran hanyalah gelisah.
Pada akhirnya, hal terbaik yang bisa dilakukan hanyalah pasrah.

Tanjung priok, 1 Oktober 2013
30/07/13 0 komentar

Puisi dan sajak bulan juli.



Hujan di bulan juli. Menebar berkah dipagi hari. Berselimutkan sinar mentari. Melangkah pasti menuju cinta yang hakiki ©

Jangan beri tahu aku cara meninggalkanmu. Biarkanlah aku sebentar lagi, mencintaimu dengan caraku. ~

Jika hujan adalah jendela rindu. Hatimu adalah pintu yang tidak pernah bisa ku buka. ~

~ : Aku mencintai gerimis yang kau rengguh setiap malam. Jangan jadikan aku pengemis, yang meminta cinta. Suram.

~ : Seolah lelah berjibaku dengan hujan. Mentari pun dirundung kepedihan. meratapi lelaki tanpa senyuman.

6. ~ : bagaimana aku bisa lupa. Asal kau tahu saja, senyummu itu seperti luka.

7. ~ : kuakui kau selalu berhasil membuatku tertawa riang, ter#senyum sendiri. Tapi sayang, hanya dalam mimpi.

8. ~ : seorang gadis serupa bidadari. Memiliki seindah mentari. Bolehkah hamba yang hina ini. Meminangmu sebagai istri.

~ :Hitam dan putihnya kehidupan.Manis dan pahitnya masa lalu.Semua terekam jelas pada kedua kelingking yang saling tersimpul ini

~ : Akulah jari yang tak kenal lelah,mengoreskan namamu di atas .Walaupun ribuan kali ombak menggulungnya.Aku tetap setia.

~ : jika kamu sebuah . Angin adalah rindu yang akan menerbangkanmu. Mencari rengkuhan hangat itu.

~ : riuh suara ombak mendesir. Disini aku berpikir. Melukis sebuah syair. Dengan segenggam

~ : pagi ini, seorang pemuda telah lahir. Kelak ia akan menjadi penyihir. Menggubah deretan aksara menjadi syair.

~ : syair yang kau ciptakan begitu hidup. Memberi warna pada lentera yang mulai redup. Baginya itu sudah lebih dari cukup.

~ : cukup dengan berceloteh pemuda ini menjelma menjadi angin.Menerbangkan daun yang mulai menguning.Kesejukan bagi yang menenang.

~ : Mengenang, adalah caraku berbagi kisah.Tentang pemuda yang menjelma menjadi angin dengan susah payah.Tanpa pantang menyerah.

~ : menyerah hanya untuk pecundang. Biarkan deretan syair ini terus berdendang. Menjadi candu, membuat hatinya meradang.

~ : Aku selalu ingin menjadi , yang menerangi setiap langkahmu. Memunguti bait puisi yang berceceran.

~ : hati yang nyeri tertusuk . Lekas kau obati. Dengan ribuan bait puisi.

~ : Mengingatmu; sama saja berjalan diatas . Lukanya tak terlalu dalam. Tapi, membekas di hati.
29/06/13 0 komentar

Puisi & Sajak bulan juni.

Dibawah ini adalah sepenggal puisi dan sajak yang pernah gue tulis ditwitter dan pernah di RT sama @Bait_Puisi dan @IstanaSajak
Berhubung gue juga masih dalam tahap belajar, jadi jangan diketawain ya.





1. 
~ : Secangkir kopi pahit dipagi yang sendu. Mengingatkanku pada rindu yang menggebu gebu, kamu.

~ : Malam ini kubentangkan selembar rindu yang lama membeku. Berusaha melepas bayanganmu yang terus mengganggu.

~ : Gemercik tetesan hujan menyibak lembaran kenangan. Angin memaksa melepas kerinduan di ujung angan.

~ : Tak cukup satu lembar kertas untuk menuliskan keindahan matamu. Pena ini tak mau lepas seolah sudah terbelenggu.

~ : Kadang sajakmu adalah lembaran puja dan do'a. Seringkali menjadi penyembuh luka dan pelepas asa.

~ : Aku dan kamu tak akan pernah bersama. seperti sajakku yang tak pernah ada TEMA.

~ : Matanya bagaikan cermin keindahan. Pantulannya menyilaukan keheningan.

~ : Semilir angin malam menusuk hati dikala sendu. Keheningan kian membeku, membunuh rindu yang ingin bercumbu.

~ : Aku bersembunyi dibalik sepi. Teman sejati adalah sunyi, paling mengerti dentum hati yang paling nyeri.

~ : Hujan kali ini melukiskan kesedihan didalam hati. Merasakan kehilangan yang sebenarnya belum pernah kumiliki.

~ : Sudah terlalu lama aku berteman sepi. kehilanganmu membuat hati terasa nyeri. Sendiri.

~ : Putih melambangkan arti kesucian. Elok wajahmu bagai sinar sang rembulan.

~ Berapa kali lamunanku tentangnya melayang diterjang gelombang. Rasa bimbang ini semakin meradang tak kunjung hilang.

~ saat kebimbangan merajang asa. Lengkung bibirmu membangkitkan jiwa. Saat kepedihan merasuk sukma. Tawamu bagai pelipur lara.

~ Waktu kadang terasa kejam. Tak peduli pada hati yang terajam. Memikirkanmu hanya membuat otakku keram.

~ seorang gadis serupa bidadari. Begitu lihai mencuri hati. Mantra apa yang kau geluti. Hingga aku jatuh hati.

~ bila waktu mulai merindu. Ajari aku sebuah lagu. Lagu yang selalu mengingatkanku. Pada bibir merah mudamu.

berbincanglah sebentar dengan masa lalu. Kau akan tahu betapa banyaknya perasaan yg tertahan di dalam kesedihan. ~

~ : Kedatanganmu dimimpiku semalam membangunkan asa yang terpendam. Walaupun sesaat kemudian perasaan rindu itu tenggelam.

seorang gadis serupa bidadari. Begitu lihai mencuri hati. Mantra apa yang kau geluti. Hingga aku jatuh hati. ~
 
;