13/11/13 0 komentar

Virus ganas.

ilustrasi



“Coba jelaskan apa keluhanmu?”

“Jantung saya sering berdegup kencang dan tak beraturan, Dok. Perasaan saya selalu gelisah, setiap malam saya selalu susah tidur.”

“Sejak kapan anda mengalami itu?”

“Sekitar satu tahun terakhir ini sih, Dok.”

Dokter di hadapanku ini mencoba menganalisis penyakit apa yang sedang aku derita. Dengan alat yang di hubungkan ke telinganya ia mendeteksi sesuatu yang aneh di dalam dadaku.

“Gimana, Dok?”

“Sepertinya anda positif terkena virus, tak ada yang bisa menolong anda, terkecuali anda sendiri. Terlebih virus ini tergolong ganas dan tak ada obatnya.”

 “Saran saya, nyatakan saja perasaanmu atau cinta yang mengendap itu akan menggerogoti hatimu.”


Diikutsertakan dalam #FF100Kata



12/11/13 0 komentar

AYAH.

ilustrasi.



“Bu, aku ingin berhenti dari pekerjaan dan menjadi penulis.”

“Apa?”

Perkataanku mengejutkan Ibu yang sedang memasak di dapur. Pandangannya tertuju padaku. Aku tertunduk, sorotan matanya menyiratkan ketidaksetujuan.

“Nanti Ibu sampaikan keinginanmu pada Ayah, Ibu yakin Ayahmu pun tak akan setuju.”

Begitulah, aneh memang. Sejak dulu setiap kali aku menginginkan sesuatu aku akan bilang kepada Ibu. Kemudian Ibuku akan menyampaikan pada Ayah, di penuhi atau tidaknya keinginanku itu tergantung persetujuannya. Iya, aku dan Ayah memang jarang sekali berkomunikasi.

*

“Ayah bilang apa?” Ibu menarik napas kemudian menghembuskanya perlahan.

“Lakukan sesukamu, Ayahmu bilang seorang pria punya impian yang tidak bisa di mengerti wanita.”


Diikutsertakan dalam #FF100Kata
11/11/13 0 komentar

Jagoan.




“Iya… terus, Bu…”

“Bagus, dorong terus…”

Napas wanita itu tersengal-sengal, keringat sudah membanjiri wajah dan seluruh tubuhnya. Dokter Ridwan dibantu asistennya masih berusaha mengeluarkan si jabang bayi dari rahim wanita itu. Sementara lelakinya menunggu di luar, cemas menunggu kelahiran anak pertamanya. Bibirnya tampak sibuk merapal do’a.

“Ibu, tarik napas dalam-dalam dari hidung.” Perintah dokter.

“Iyak, doronggg…” wanita itu menjerit sejadi-jadinya. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.

Hening…


Seorang bayi laki-laki telah lahir. Tapi, bayi itu bergeming pun tak mengeluarkan tangisan. Dokter Ridwan berinisiatif menampari bokong bayi itu supaya menangis. Bayi itu menyeringai. Dengan kaki mungilnya ia menendang dokter itu hingga terpental.


Diikutsertakan dalam #FF100Kata
0 komentar

Kejar dan Hajar.



Malam itu sunyi sekali. Di luar rumah hanya terdengar ceracau binatang malam dan sesekali terdengar suara lolongan anjing. Aku berjalan terkantuk-kantuk saat menuju dapur. Tengah malam begini aku terjaga, tenggorokanku malam itu terasa kering. Ingin rasanya aku minum barang satu sampai dua teguk air untuk menghilangkan haus.

Aku tergeragap, saat mendengar suara aneh dari arah dapur. Aku mengendap-endap untuk mencari tahu. Ternyata, dua orang berpakaian serba hitam masuk dalam rumah.

“Malinggg…” teriakku. Mereka tersentak, lalu lari terbirit-birit.


“Kejar.”

Tiba-tiba nenek yang sedari tadi tidur pulas di kamar, muncul di sampingku seraya melempar sapu. Sapu itu terbang dan menghajar maling itu.



Diikutsertakan dalam #FF100Kata 
09/11/13 1 komentar

Mati (lagi)




“Katanya kamu cinta sama aku. Tapi, kenapa kamu malah selingkuh dengan perempuan jalang itu?”

Wajah Ratih memerah, darah dalam tubuhnya seperti mendidih. Di bawah panggung penonton di buat terpukau dengan aktingnya. Ia begitu menjiwaii karakter tokoh dalam cerita.

“Dengar penjelasanku dulu.”

Robi bergegas mengejar dan menarik tangan Ratih. Belum juga sempat Robi berbicara sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipinya.

Hening…

Merasa terhina atas perlakuan Ratih, Robi mengambil sebilah pisau yang sudah disiapkan untuk properti. Dan tanpa ragu menancapkannya di punggung Ratih. Robi menyeringai.
Pertunjukan telah usai. Penonton bertepuk tangan. Di bawah panggung sekali lagi, aku harus menyaksikan kematianku sendiri.


Diikutsertakan dalam #FF100Kata



08/11/13 0 komentar

Racikan kopi, sang istri.




“Harum…”

Hidungku mengendus aroma kopi yang menyeruak dari arah dapur. Dari teras rumah kupandangi wajah istriku yang sedang asik memutar-mutar sendok kecil pada sebuah cangkir kopi. Aku merasa menjadi manusia paling beruntung, punya istri cantik sekaligus pandai membuat kopi.

“Ah,.. Sedap.”

Kuseruput kopi ternikmat buatan istriku itu. Lalu mulai membaca koran pagi ini. Bosan, semua isi berita tentang korupsi. Kusesap lagi, lagi dan lagi bibir cangkir itu hingga kopi habis tak tersisa. Tiba-tiba pandanganku mulai gelap, begitu pekat seperti ampas kopi. Kepalaku berkunang-kunang. Tubuhku tergeletak di lantai.

Ternyata selain kopi dan gula, istriku sengaja menambahkan racun di dalam kopi racikannya.


Diikutsertakan dalam #FF100Kata

07/11/13 0 komentar

Perawan tua.






Mau sampai kapan kamu nunggu lelaki itu?”

Kata-kata Bapak masih terngiang di kepalaku. Seharusnya dulu aku menuruti perintahnya, menikah dengan anak dari teman masa kecilnya. Tapi, aku malah menolak perjodohan itu. Karena hidup ini terlalu singkat untuk di jalani bersama orang yang salah.

“Aku janji, kepergianku tak akan lama. Setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan, aku akan pulang dan langsung melamarmu.”

Ucapan dan tatapan mata mas Jaka waktu itu begitu menyakinkanku. Ini sudah 10 tahun sejak kepergianya. Tak kuhiraukan walau banyak pria yang berusaha menggodaku.

Tapi,

Sekarang apalah arti setia, yang tersisa hanya seorang kembang desa yang menjelma menjadi perawan tua.


Diikutsertakan dalam #FF100Kata
 
;